Beda Syariah Dan Konven Bag 2

Kalau KPR bank konvensional ada kelebihan namanya RIBA, kalau KPR syariah ada kelebihan namanya margin keuntungan..

Banyak orang yang mengatakan kedua ini sama lho, padahal keduanya beda banget…

hmm Kita jangan sampai kayak orang Yahudi yah, yang mengatakan riba = jual beli, padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan RIBA.

Lalu terus kalau begitu perbedaannya apa donk??

1. KPR konvensional itu akadnya adalah pembiayaan atau pinjaman atau hutang piutang, nah bunga riba itu adalah besaran prosentase yang diambil dari nilai hutang tadi kalau si penghutang gagal melakukan pembayaran..

Nah akhir hutang si penghutang kalau sampai terjadi gagal bayar gagal bayar terus, adalah pokok hutang + riba hutang.. kadang2 riba hutang bisa lebih besar dari pada pokok hutang.. ihh ngeRIBAnget yah..

2. Seperti sebelumnya diketahui bahwa akad KPR konvensional adalah akad pembiayaan atau pinjaman atau hutang piutang. Seharusnya yang diperoleh atau yang diharapkan oleh si pemberi hutang ini adalah pahala yang besar dari Allah, yang tentunya kenikmatan tersebut pasti lebih besar dari nilai riba hutang, namun ternyata si pemberi hutang ini malah menukarnya dengan nilai riba hutang yang dikiranya lebih bermanfaat buatnya.. nah ini sebenarnya yang membuat dosa RIBA itu sedemikian besar karena meniadakan atau mengganti pahala yang besar dari Allah dengan secuil RIBA hutang buat keuntungan duniawi dan juga menyengsarakan si penerima hutang.

3. Sedangkan dalam KPR syariah dimana akadnya adalah jual beli (murabahah), yang kadang kadang dibayar secara cash dan kadang kadang ada juga yang dibayar secara kredit.
Untuk pembelian secara kredit, nilai hutang tidak dibedakan menjadi pokok hutang + margin tetapi menjadi satu kesatuan dalam hutang + margin yang disebut pokok hutang total.

Nah berbeda yang sangat jelas adalah jika terjadi gagal bayar..
Jika di KPR konvensional akhir hutang si penghutang adalah pokok hutang + riba hutang, berbeda dengan KPR syariah akhir hutang si penghutang adalah pokok hutang saja.

Adapun penyelesaian kondisi gagal bayar di penghutang, umumnya adalah dengan melakukan penyitaan aset dari si penghutang dan lelang dengan nilai lelang pembuka adalah sebesar nilai pokok hutang + riba hutang, jika terjadi pada KPR konvensional.

Sedangkan pada KPR syariah penyelesaian ini dengan cara musyawarah atau memberikan kelonggaran waktu selama beberapa waktu tertentu bagi si penghutang, dan bahkan kadang2 suka ada diskon atau keringanan hutang atau sedekah jika si penghutang mampu membayar sekaligus saat rumahnya dijual dengan kondisi pasar.

Yang jelas dalam KPR syariah tidak ada namanya RIBA hutang atau tambahan hutang lagi dari hutang pokok si penghutang walaupun terjadi keterlambatan bahkan gagal bayar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *